Kamis, 08 Juli 2010

Di UJUNG MALAM DI PUNCAK SHANGRI-LA

Hebohnya berita perselingkuhan suamiku dengan Rininta, sahabatku, membuatku bagai disambar petir di siang bolong. Aku benar-benar muak melihat dan mendengar berita, yang menurutku sama sekali jauh dari kebenaran itu, menyebar ke mana-mana dengan mudahnya melalui majalah, tabloid, harian, radio, tv, bahkan juga di internet. Gila! Mana mungkin Gade berbuat sekeji itu padaku! Umpatku sambil meninju telapak kiriku dengan tangan kananku.

Kuintip pemandangan di depan gerbang pintu masuk rumahku dari balik tirai jendela kamarku. Beberapa mobil dan motor berhenti di sana. Tampak pula Wilopo, satpam rumahku, yang sedang menggeleng-geleng pada beberapa orang yang mengerumuninya, yang sudah pasti para pemburu berita yang ingin mencari informasi ke rumah ini. Untung saja aku sudah menyuruhnya agar selalu menjawab ‘tidak tahu’.

Aku menghela napas dalam, jantungku berdebar kencang. Aku tak mengerti, mengapa tiba-tiba saja para kuli tinta itu bisa memaparkan berita ‘bodoh’ bahwa suamiku sudah menikah siri di Palembang dengan Rininta, - sahabatku sekaligus perempuan yang kupercaya menjadi penyanyi latar grup band suamiku. Aku yakin seribu persen, Rininta tak akan senekat itu menyakitiku. Bukankah dulu aku yang mendesak Gade, suamiku, untuk menolongnya menjadikan dia sebagai penyanyi latar di saat ia kehilangan suaminya karena suatu kecelakaan pesawat terbang? Jadi tidaklah mungkin janda satu anak itu tega menusukku dari belakang setelah segala yang kulakukan untuk membantunya bangkit lagi dari kedukaan dan kesulitannya menghadapi hidup ini.

“Yang paling penting, kan Gade tidak berbuat itu, Rene? Kamu sudah konfirmasi sama Gade, kan?” Tiara, managerku, mengelus pundakku.

“Ah, kamu tahu sendiri sifat Gade. Nanti aku tanya, dia malah mengomel, mengapa aku lebih percaya gosip?”

“Ya susah juga kalau begitu, kan kalian harus bicara supaya jika suatu kali ada pers tanya, kalian bisa jawab dengan kompak dan lugas, meskipun kalian tidak berada di tempat yang sama. Tidak seperti ini, kamu terpaksa sembunyi dari pers, karena tak tahu apa-apa.”

“Aku malas mau konfirmasi dengan Gade, mana dia lagi di luar kota. Bicara via telpon kayaknya kok malah nanti makin runyam rasanya. Kadang-kadang aku juga suka emosi, kan?”

“Sebaiknya kamu bicara empat mata dengan Gade, setelah dia pulang nanti.”

“Yah… dua hari lagi dong!” keluhku. “Sementara itu aku harus terus menyuruh satpamku bilang ‘aku nggak ada di tempat’ , begitu?”

“Untuk sementara, itu pilihan terbaik, Rene!”

“Untung aku nggak ada job sampai dua minggu depan.”

Tiara mengangguk-angguk, lalu menepuk pundakku.

“Ya sudah, aku jalan dulu ya. Mumpung di depan sudah sepi!” ujarnya sambil melongok jendela.

“Keep on silence, ya Tiar!” aku memeluknya sambil menitikkan air mata. Aku tiba-tiba merasa teramat sedih, karena managerku ini hendak pergi, sementara aku seorang diri di rumah ini, dan bingung memikirkan masalah besar kemelut gossip rumah tanggaku yang belum pasti kebenarannya, tetapi ada beberapa bukti yang mendukung sehingga seakan-akan benar adanya.

“Jangan kuatir aku nggak akan bicara sama pers. Percayalah. Hidupku kan dari kamu juga, Rene.”

“Thanks, Mam!”

Aku mengantarnya hingga ke mulut pintu kamar, lalu segera masuk ke kamar lagi.

Pukul dua belas malam, handphone-ku berdering nyaring. Nyaris saja membangunkan Eliana anak tunggalku yang tengah tidur di kamarku. Kuangkat handphone di samping bantalku.

“Hallo, Gade? Ada apa?”

“Sudah tidur, Rene?”

“Mana mungkin aku bisa tidur! Kamu baru selesai manggung?”

“He eh.”

“Kamu udah dengar…”

“Berita itu?” Gade langsung saja memotong. “Biar saja, toh…”

“Tapi berita itu tidak benar, kan?” pertanyaan yang sudah kucoba kutahan untuk tidak kuucapkan itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari lubang mulutku. Hatiku mendadak ketakutan sendiri, takut jika Gade berbalik marah kepadaku.

“Kita bicarakan saja besok, kalau aku sudah di rumah.”

“Memang kenapa kalau kita bicara di telpon sekarang?”

“Sudahlah, aku cuma menelepon untuk mengecek apa kamu dan Eliana baik-baik di rumah.”

“Lalu, bagaimana kalau pers..?”

“Sudah diam saja sementara di rumah, sampai aku pulang. Aku mau menjelaskan segalanya nanti.”

Aku menggigit bibir. Mencoba untuk menahan emosi.

“Ya sudah.”

“Kamu baik-baik di rumah ya, Rene!”

“Thanks, I love you, Gade. Always.”

“Bye, Rene.”

Telepon sudah kututup, tapi aku tetap tak mampu memejamkan mataku. Kulangkahkan kakiku menuju studio musikku. Kucoba ciptakan sebuah tembang baru di sana.

***

“Jadi,… benar?!” tanyaku lirih dengan mulut ternganga-nganga, ketika Gade berbicara empat mata denganku, di dalam studio musik kami.

Gade menaikkan alisnya sebagai jawaban ‘ya’.

Air mataku tumpah, aku menangis sejadi-jadinya. Kusasarkan tinjuku ke dada Gade berkali-kali.

“Kenapa Gade? Kenapa kamu tega? Apa kekuranganku?” tanyaku tersengal-sengal.

“Aku tak tahu, itu terjadi begitu saja… , mungkin karena kami sering bersama, dan dia begitu manis di mataku.”

Hah? Jadi, Rininta begitu manis di mata suamiku?! Aku mengepalkan kedua tanganku dan memukuli kepalaku sekuat-kuatnya kini. Gade berusaha menahan tanganku.

“Kamu tidak kurang apa pun, Rene. Kamu perempuan yang berjiwa mandiri, istri dan ibu yang sempurna. Aku saja yang brengsek. Aku laki-laki yang rakus, yang tidak bisa memegang komitmen seperti kamu. Laki-laki yang tidak bisa mengekang nafsu kelakianku!”

Aku makin menangis sejadi-jadinya, semua kejujurannya itu benar-benar menghujam dan mencabik-cabik perasaanku malam ini, hingga aku merasa menjadi perempuan yang sama sekali tak bernilai lagi. Bagaimana tidak? Aku amat dan hanya mencintai Gade suamiku, apa pun yang selalu dia inginkan selalu kuturuti, termasuk membatasi kegiatan showku di luar kota.

Gade mencoba merengkuh pundakku, menenangkanku, tapi kusibakkan tangannya. Jijik aku dipegang olehnya saat ini. Aku tak sudi disentuhnya barang sekelebat pun. Tidak!

Aku berlari menuju kamar tamu, dan membanting pintu studio musik kami. Di pembaringan kulepas lagi tangisku sejadi-jadinya. Hingga akhirnya Gade datang menghampiriku.

“Aku berusaha jujur, Rene. Meskipun jujur itu amat menyakitkanmu.” Ujarnya perlahan. “Aku bisa saja berbohong untuk menyenangkan dan menenangkanmu, tapi aku tak mau melakukan itu. Tolong hargai kejujuranku,” tandasnya lagi dengan nada yang mulai menunjukkan kekesalannya atas sikapku yang tak bisa mengerti akan kesalahannya.

Bagaimana aku bisa mengerti? Perempuan mana sih yang mau suaminya menjadi milik bersama dengan perempuan lain?!

“Kalau kamu jujur, semestinya akulah orang yang pertama tahu, bahwa kamu berbuat ini. Bukan pers!” bantahku sambil menghapus pipiku yang basah. “Kamu kan tahu, kalau pria sudah beristri, kalau mau menikah lagi, itu kan harus seijin istrinya!”

“Oke, aku sudah mengaku salah, kan? Dan aku minta maaf. Sekarang maumu apa? Pertengkaran ini nggak akan ada habisnya, Rene!” nada Gade mulai meninggi, yang menurutku sangat tidak lucu. Dia yang bersalah. Aku membenci kesalahannya, tapi kenapa dia yang marah padaku? Lalu, jika dia mengaku salah dan minta maaf, apa masalah ini menjadi selesai? Dia benar-benar tidak memikirkan perasaanku, pun tidak memikirkan betapa sulitnya aku harus menata kembali hatiku, hidupku atas kejadian memalukan ini!

“Aku tidak mau hubunganmu dengan Rininta berlanjut! Itu mauku!” tegasku kemudian, “Atau, kita cerai!”

Gade terbungkam.

“Baik! Aku memang sudah mengakhiri hubunganku dengan Rininta, karena aku tidak mau kita bercerai!” Gade duduk di sampingku. Aku masih saja berurai air mata. “Tapi aku minta tolong, kamu untuk menutupi keadaan ini pada pers.”

“Hm, menutupi pengkhianatanmu pada perkawinan kita?! Enak sekali? Kamu yang makan nangkanya, tapi aku harus ikut kena getahnya!”

“Lantas, kamu mau semua orang tahu, bahwa aku memang benar menikah siri dengan Rininta, begitu?”

Aku langsung terbungkam, walau gejolak api amarah di hatiku belum padam.

“Kamu pikir, perempuan jalang itu juga bisa mengunci mulutnya?!” omelku kesal. “Kenapa harus aku yang menutupi perbuatanmu, bagaimana dengan perempuan itu? Apa dia..”

“Dia sudah pasti akan membantah kebenaran yang ada.” Potongnya cepat. “Dia berjanji untuk itu, Ren. Percayalah padaku. Dia juga merasa nggak enak padamu dengan kejadian ini.”

“Huh! Kenapa dia sendiri membiarkan dirinya masuk dalam situasi ini? Kalau saja dia menghargaiku, tentu dia tidak akan mencuri suamiku!”

“Sudahlah Rene, persoalan ini tidak akan ada habisnya. Yang mesti kita pikirkan adalah bagaimana ke depannya, bagaimana kita menghadapi pers, dan bagaimana kita berbicara baik-baik pada Rininta untuk berhenti dari background vokal grup musikku, dan bagaimana kita bisa membina rumah tangga ini lagi dari awal.”

“Persetan kamu, Gade!”

Gade diam saja. Aku tahu dia tak berani, karena kali ini dia memang sedang terperosok dalam lubang masalah yang ia gali sendiri, yang membuatnya dalam posisi lemah dan kalah.

Aku menghapus sisa air mata yang menyumbat hidungku.

“Bagaimana, Rene? Aku sudah siapkan rencana seperti ini…” Gade menggaruk rambutnya sebentar. “Pertama, kita tetap menyangkal pada pers akan semua kebenaran, semua bukti yang pers punya, mengenai perkawinan siriku dengan Rininta. Kedua, aku akan atur Rininta untuk menjadi penyanyi kelompok vokal baru, jadi dia tidak akan bersamaku lagi. Yang terpenting, dia tetap bisa mencari nafkah untuk keluarganya, dan aku tidak ada kaitan lagi dengannya, karena otomatis dia tidak setim denganku. Ketiga, aku memohon padamu kalau bisa, mulai sekarang kamu menjadi managerku. Jadi, kuminta kamu menghentikan semua kegiatanmu sebagai penyanyi solo, karena terus terang aku kesepian karena kamu terlalu sibuk dengan segala kegiatanmu selama ini mulai dari tour album, temu fans, bahkan kontrak iklan. Kamu tahu, salah satu penyebab mengapa aku tergoda Rininta, adalah karena aku lebih banyak bersama dengannya sementara kamu sibuk dengan urusan panggungmu sendiri.”

Aku menggigit bibir.

“Kenapa ujung-ujungnya kesibukanku yang dijadikan kambing hitam perkawinan sirimu? Kamu yang tidak bisa mengekang nafsu kelakianmu, Gade! Lagi pula, bukankah dari dulu aku sudah mengurangi kesibukanku, sesuai keinginanmu?”

“Ya, tapi aku ingin lebih banyak bisa bersamamu, Rene. Aku ingin setiap aku tour, kamu mendampingiku. Jika mungkin kita ajak Eliana. Meskipun cuma hanya di hotel, aku ingin kita tak pernah menyia-nyiakan waktu kita untuk bersama. Kamu nggak perlu mengkuatirkan masalah ekonomi, bukankah selama ini aku menjamin kamu tidak pernah berkekurangan, kan? Rumah beserta isinya yang aku bangun dari nol untukmu, mobil pribadimu, kendaraan untuk antar jemput Eliana, semuanya.”

“Aku tahu. Tapi tahukah kamu, bahwa kebahagiaan itu, bukan hanya dari materi pemberianmu semata, Gade? Aku juga ingin punya karir yang bisa kubanggakan, meskipun aku tak sehebat kamu! Dan, itu kuperoleh dari karir menyanyiku, lagu-lagu ciptaanku.”

“Tapi aku kan bisa menafkahimu, Rene! Apa pun kebutuhanmu tinggal bilang, kenapa kamu harus bersusah payah menjual suaramu, terbang dari satu kota ke kota lain, meninggalkan aku dan Eliana? Kamu juga masih bisa populer kok, dengan karir yang lain, yang tak terlalu menyita waktumu. Menjadi pencipta lagu, misalnya. Itu juga hebat! Aku pastikan aku jadi orang pertama untuk mempopulerkan lagu-lagu ciptaanmu. Kebetulan aku mau buat grup vokal baru, dan kupikir lagu ciptaanmu bisa mereka populerkan, Rene.”

“Tapi..”

“Tunggu dulu, jangan potong, aku belum selesai bicara!” Gade sedikit membentak. “Dengar, kalau kamu full hanya sebagai pencipta lagu, otomatis kamu masih punya waktu luang yang lebih banyak untuk Eliana, disamping menjadi managerku.”

Aku mencengkeram geraham. Kesal. Bagaimana tidak? Sudah dia yang melanggar komitmen perkawinan kami, aku pula yang dipersalahkan, dan buntutnya aku pula yang harus membunuh karirku sebagai penyanyi solo yang sedang naik daun. Sinting, bukan? Jadi beginikah ego seorang suami? Sungguh tidak adil!

Tidakkah dia berpikir, bahwa aib dan kesalahan yang ia perbuat ini, semestinya tidak perlu terjadi, jika ia punya tanggung jawab moral selaku seorang suami, seorang ayah, untuk selalu menjaga kesucian bahtera perkawinan kami? Itu saja, kan? Sederhana!

“Bagaimana, Rene?”

“Untuk rencana yang ketiga, aku tidak setuju!” ujarku tegas.

“Kenapa? Karena kamu masih ingin menjadi penyanyi?”

“Kalau ya, apa itu dosa?! Menjadi penyanyi tidak lebih nista dari pengkhianatanmu?!”

Gade tak berkomentar. Skak mat! Batinku.

Dia menghela napas dalam.

“Dengar Gade, aku tidak setuju, pertama karena aku tidak mau menjadi managermu. Bukan apa-apa, itu semata-mata karena aku tidak tahu dan tidak pernah menguasai bidang itu. Aku ingin apa pun yang kuperbuat harus profesional. Kedua, karena aku tetap ingin menjadi penyanyi. Itu adalah anugerah indah yang Tuhan berikan padaku.”

Gade lama membisu.

“Kalau gara-gara aku menyanyi dan kamu mau menceraikanku, silakan saja. Yang jelas aku tidak mau meninggalkan karirku, karena aku mencintainya, dan itu satu kebanggaan dalam hidupku.”

“Jadi…”

“Jadi jangan paksa aku berhenti dari karir yang telah kurintis, bahkan sebelum aku mengenalmu!” sambarku secepat kilat, lalu bangkit dan melangkah meninggalkan Gade yang terbengong-bengong menatapku.

***

Seratus hari berlalu sudah. Gosip yang melanda keharmonisan rumah tanggaku pun mereda. Dua rencana yang dijalankan Gade semua berjalan mulus. Aku sendiri dengan terpaksa turut membohongi para kuli tinta yang mewawancarai kami dalam konferensi pers, meski lubuk hatiku yang terdalam merasa bahwa semua ini tak adil, karena Gade-lah menjadi pihak yang paling beruntung, sementara aku yang tak mengerti apa-apa turut menanggung dosa atas kebohongan ini.

Aku juga hampir tak pernah membahas lagi, semua yang telah terjadi antara suamiku dan Rininta. Aku hanya menganggap perempuan jalang itu pernah punya andil dalam kemelut rumah tanggaku, dan bagiku kini ia telah mati!

Hubunganku dengan Gade sejak peristiwa itu terus membeku. Aku selalu mati rasa, meski kami tinggal seatap.

Kini, di ujung malam ini, aku berdiri di ruang terbuka di puncak Hotel Shangri-La, tempat menginapku. Kutatap lampu yang berkelap-kelip di bawah sana, yang seakan tengah bercengkrama dengan gemintang yang bertaburan di langit. Rembulan sebesar tampah tampak indah menemani sisa malamku. Namun tetap saja rasa sunyi, sepi, kosong dan hampalah yang begitu menyesakkan dada, bahkan merasuk hingga ke sumsum tulangku di malam ini. Sukses konserku yang baru usai satu jam yang lalu, hanya sejenak saja mampu membunuh rasa kesepianku yang selama ini selalu setia menemaniku, sejak hubunganku dan Gade membeku.

“Rene…”

Aku tersentak, ketika kudengar suara Gade menyapaku, dan tiba-tiba dia sudah memeluk pinggangku dari belakang. “Aku merindukanmu. Kamu jangan membenciku terus, ya Rene?” bisiknya di telingaku.

Aku memberontak, tapi Gade tetap saja memeluk pinggangku, bahkan semakin erat. Jantungku berdegub begitu kencang. Sungguh aku tak tahu jika Gade menyusulku ke kota ini, malam ini.

“Apa yang mesti kuperbuat untuk menebus dosaku, Ren. Aku ingin kita bisa kembali seperti dulu.”

Aku hanya membisu, dan mematung.

“Aku teramat mencintaimu, Rene. Aku hanya manusia biasa yang bisa saja berbuat dosa, mengapa kamu belum juga bisa memaafkanku, sementara Tuhan Mahapengampun, Mahapemberi tobat pada semua umatnya?”

“Aku bukan Tuhan!” tegasku dingin, dan menyibakkan tangannya dari pinggangku.

“Dengar, aku sudah tak lagi dengan Rininta sejak pertengkaran kita dulu. Aku juga tak lagi bermain api dengan perempuan lain. Yang kumau hanya kamu, hanya kita bisa seperti dulu.” Ujarnya penuh pengharapan. “Aku memang sudah mengacaukan rumah tangga ini, Rene. Aku memang salah, tapi aku sudah bertobat, Rene. Tolonglah, aku butuh kamu, aku amat merindukanmu. Maafkan aku, jika aku terlalu mengatur kebebasanmu berkarir selama ini. Jujur, semua itu kulakukan karena aku takut kelak kamu akan lebih hebat dariku, Rene. Kini aku sadar, bahwa apa pun yang digariskan Tuhan untuk manusia, aku tak akan kuasa mengingkarinya, seperti jika Tuhan mau kamu menjadi penyanyi yang lebih hebat dariku kelak!”

Aku berbalik, mendelik tajam pada mata Gade yang menatapku memohon, dan tanpa banyak komentar kutampar bergantian kedua pipinya dengan telapak tangan kananku, lalu berlari pergi hendak kembali ke kamarku. Tetapi sial…..aku terjatuh karena kakiku tersandung blok beton yang tergeletak di situ, yang tak tampak oleh mataku!

“Rene…!” Gade berteriak dan berlari menolongku. “Kamu tidak apa-apa, Rene?”

Aku meringis kesakitan, merasakan nyeri di kaki kananku yang luar biasa.

Gade memeriksa kakiku yang tampaknya terkilir.

“Ini pasti sakit sekali, ayo kugendong kau ke kamar, Rene.”

Tanpa menunggu jawabanku, Gade membopongku meninggalkan puncak hotel ini.

“Berpeganglah pada leherku, Rene.”

Mau tak mau aku menuruti perintahnya, karena aku takut terjatuh lagi. Jantungku melompat-lompat, ketika kukalungkan lenganku pada lehernya. Aku menjadi sadar betul jika aku masih memiliki getar-getar cinta padanya, dan sesungguhnya aku pun teramat merindukan lelaki yang telah sepuluh tahun ini menjadi suamiku. Kutatap merah pipinya akibat tamparan kerasku tadi.

“Mana kunci kamarmu, Rene?” tanyanya ketika ia membaringkanku di depan pintu kamarku. Ah, rupanya dia tahu betul, kamar tempat di mana aku menginap di hotel ini.

Aku merogoh saku belakang celana jeanku, kuserahkan kunci pintu padanya tanpa berkomentar.

Tak lama pintu terbuka, aku hendak berdiri dan melangkah masuk sendiri, namun serta merta Gade membopongku lagi, lalu menaruhku hati-hati di pembaringan.

“Aku coba urut ya, pakai lotion seadanya saja.” Dia menggulung celana jeanku hingga sebatas dengkul, lalu meraih lotion dari meja rias.

Aku terpejam dan meringis menahan sakit, ketika Gade mengurut kaki kananku, namun di antara rasa kesakitanku, sesekali kucuri pandang wajah lelaki itu.

Tiga puluh menit kemudian, dia menyelimutiku.

“Aku pulang ke kamarku, ya Rene. Sebetulnya aku ingin di sini menemanimu, tapi aku tahu, aku terlalu kotor untuk bisa bersamamu lagi, setelah apa yang kulakukan padamu.” Gade tampak kuyu, tak berdaya. Inilah pertama kalinya kulihat Gade yang kukenal benar-benar berbeda dari Gade yang biasanya, -Gade yang otoriter dan penuh ketegasan.

“Kalau kau perlu aku, telpon saja. Aku akan datang. Selamat tidur, Rene!” pamitnya tanpa menyentuhku lagi.

Dia melangkah gontai menuju pintu kamarku. Aku menoleh menatap punggungnya yang membelakangiku. Entah mengapa, hatiku mendadak terenyuh.

“Gade…..”

Gade menoleh. Membalikkan badannya.

“Kamu memanggilku, Rene?”

Aku mengangguk.

Ada apa?” Ragu-ragu, ia kembali melangkah mendekati pembaringanku. “Apa lagi yang bisa kulakukan untukmu, Rene?”

Kulihat derita di matanya, namun sekelibat aku teringat peristiwa yang mencabik-cabik perkawinanku. Air mataku tumpah. Aku masih mencintainya, tapi aku begitu terluka dan sulit melupakan peristiwa pahit itu.

“Sudahlah Rene, jangan menangis. Aku tahu, apa yang pernah kulakukan padamu, tak akan pernah hilang sepanjang hidupmu. Tapi ketahuilah, sesungguhnya aku juga tersiksa melihatmu sedih sepanjang hidupmu, Rene. Kau kira hanya kamu yang terluka? Aku pun terluka melihatmu seperti ini, melihat kita yang menjadi semakin jauh meskipun dekat satu sama lain.” Ujarnya dengan nada sedih. “Kini, aku hanya bisa bersabar menantimu, hingga kamu bisa mencintaikuku lagi seperti dahulu.”

Gade meraih jemari tangan kananku, menciuminya penuh kasih, membuatku semakin tersedu. Lalu dengan lembut di hapusnya pipiku yang membasah dengan punggung tangannya.

“Sudahlah, sudah dini hari. Istirahatlah, Rene. Aku menunggumu di luar, ya!” Gade hendak berlalu, namun aku cepat menarik jemarinya.

“Jangan pergi, De…” Pintaku lirih.

“Sungguh?” Gade menoleh, menatapku tak percaya.

“Aku mau kau di sini.”

“Rene….” Gade menciumi keningku dan berbisik. “Aku bersumpah tak kan pernah membuatmu terluka lagi, Rene!”

Aku menarik napas dalam, memejamkan mataku. Dan kubiarkan bibir Gade melumat bibirku dengan penuh nafsu. Perlahan, aku pun menjadi bergairah membalas kecupannya yang semakin membara. Ah, pergilah luka, pergi jauh dariku, agar dapat lagi kurangkai kebahagiaan hidup bersama Gadeku, seperti dahulu.

SELESAI

(Cerita ini telah dimuat di Majalah Kartini “Edisi Khusus Hari Kartini”, 23 April 2009, dalam bonus Kumpulan Cerpen Kartini)

DILEMA CINTA GIRINDRA

Suara Whitney Houston yang luar biasa indah itu terdengar membawakan All At Once di sebuah radio yang tengah diputar Maira di kamar kos kami Minggu malam ini. Aku yang tengah tengkurap berkutat dengan diktat Ilmu Bedah di tempat tidurku mendadak terdiam. Kurasakan perlahan air mataku menggenang. Mau tak mau lagu itu membuat ingatanku sesaat terbang ke perasaan yang paling menyedihkan di sepanjang hidupku, yang terjadi ketika aku pulang ke rumahku di Jakarta hari Sabtu yang lalu dan bertemu Aisya kakakku yang tiba-tiba menyerangku tak karuan.

“Kamu jangan begitu dong, Ndra. Yang kenal dulu dengan Ageng kan aku!” protes Aisya kakakku yang hanya berbeda usia tiga tahun denganku itu. “Aku nggak suka Ageng jalan sama aku, tapi selalu menanyakanmu, mengorek-ngorek apa kesukaan dan kebiasaanmu.”

“Maksudmu apa sih, Sya?” Aku tak mengerti dengan sewot yang tiba-tiba dimuntahkan Aisya saat itu.

“Jangan pura-pura nggak tahu, Ageng menyukaimu.”

Mulutku ternganga. Ageng menyukaiku? Sungguhkah? Sungguhkah cowok sahabat Raditya kakakku itu, menyukai aku yang tidak cantik pula berkulit hitam dan bertubuh kurus ini? Ah…mustahil!

“Dia juga tanya apa kamu sudah punya pacar waktu tadi kuajak menonton pameran buku di Senayan. Tentu saja kubilang ‘sudah’, bukankah si Wisnu Wardhana, temanmu yang melanjutkan kuliah S2 di Australia, itu naksir kamu, kan?”

Lidahku tercekat.

“Jadi…?”

“Ya! Aku bilang kamu sudah punya pacar anak S2. Biar saja, biar dia nggak jadi menyukaimu, karena aku menyukainya!”

Aku menggigit bibir.

“Tapi sialnya, rasanya Ageng bukan type laki-laki yang mudah percaya.” Aisya mengomel lagi. “Dia malah membeli beberapa buku, dan buku yang dibelinya itu dititipkannya padaku untuk diberikan padamu. Nih!” Aisya melempar tas kantung dari kertas berisi sejumlah buku ke pangkuanku.

Aku tersentak.

“Kamu memang raja tega, Ndra! Bahkan kekasih kakakmu sendiri, tega kaucuri!”

Aku ternganga.

“Sya, jangan bicara begitu. Aku tak tahu menahu jika Ageng menyukaiku, aku pun tak pernah bertemu dengannya. Kau kan tahu sendiri, aku sibuk kuliah di Bogor, jarang pulang ke Jakarta, mana mungkin aku ketemu dia. Aku tahu dia juga cuma melihat dari fotonya waktu wisuda bersama Raditya. Aku juga tahu, Raditya ingin menjodohkan dirimu dengannya, makanya dia mengajakmu di acara wisudanya, bukan aku.” Tegasku lagi. “Lagi pula, aku juga tak menyukainya!” dustaku, demi menjaga hati Aisya tentu saja.

“Ah…munafik! Pasti kamu titip salam pada Raditya untuk Ageng setelah melihat fotonya karena kamu naksir dia kan, sehingga Ageng sering menyebut namamu setelah Raditya menyampaikan salammu untuknya!”

“Ya…ampun, Sya! Sungguh, aku nggak kenal, nggak pernah titip salam juga untuknya pada Raditya. Jangan berpikiran begitu dong!”

“Lantas dari mana dia tahu dirimu?”

“Aku tak tahu! Kenapa kau tak tanya sendiri padanya?”

“Hey…kenapa ribut sih?” tiba-tiba Raditya yang baru pulang kantor mengagetkan kami.

“Itu Dit, si Aisya, curiga aku merebut Ageng yang ditaksirnya! Padahal aku nggak pernah ketemu Ageng!” Protesku kesal.

Raditya tersenyum.

“Sebenarnya sih Ageng memang naksir kamu, Ndra! Dia lihat fotomu yang kubawa saat jaman kuliah di ITB dulu, dan dia sudah lama ingin mengenalmu, cuma rasanya aku lebih suka jika dia sama Aisya. Umurmu terlalu beda jauh untuk jadi kekasih Ageng. Tujuh tahun, rasanya ketuaan bagi Ageng buat jadi pacarmu, Ndra!” Raditya menaruh pantatnya di sofa. “Makanya kukenalkan saja dia pada Aisya. Jadi walau nggak sama kamu, masih dapat adikku juga!”

“Tuh kan, aku innocent, Sya! Dia yang tahu diriku sendiri, bukan aku yang ingin mengenalnya! Cemburu sih cemburu tapi jangan asal tuduh dong!” ujarku sambil ngeloyor ke kamarku malam minggu itu, tentu saja sambil membawa tas berisi buku yang dibelikan Ageng dan dilempar Aisya padaku tadi. Tak baik menolak rejeki, kan?

Di kamar, kunikmati buku-buku pemberian Ageng tadi. Aku bahagia sekali membaca bermacam buku puisi karya pengarang terkenal yang dibelinya untukku.

Detik itulah, aku baru memiliki rasa percaya diri bahwa secara fisik diriku tak lebih buruk dari Aisya walau aku memang jauh lebih hitam dan kurus, sementara Aisya cantik, putih dan tinggi semampai. Ya, sikap ketertarikan Ageng padaku benar-benar menumbuhkan rasa percaya diriku bahwa secara fisik aku tak seburuk yang selama ini selalu kutanamkan dalam benakku.

Tiba-tiba suara bel berdering nyaring berkali-kali. Aku keluar dari kamarku, sambil bersiul membawakan Once Upon A Time-nya Earl Klugh yang amat kusuka.

Serta merta kubuka pintu ruang tamu.

“Selamat malam!” seorang cowok, tersenyum dan menatapku tak berkedip.

Mulutku ternganga. Ageng! Ya, aku ingat, aku ingat benar wajahnya persis seperti fotonya ketika saat wisuda dulu, yang kulihat di album foto wisuda sarjana milik Raditya.

“Selamat malam.”

“Pasti kamu yang namanya Girindra, ya?” tanyanya dengan tatap yang masih saja terarah tepat di bola mataku.

Aku mengangguk. Jantungku mendadak berdebur kencang. Kualihkan mataku ketika mata kami beradu.

“Aku Ageng, sobat Raditya.” Tangannya terulur ramah padaku. Aku membalasnya tanpa berani menatapnya. “Raditya banyak cerita tentang kamu. Tumben ada di Jakarta? Lagi pulang?”

Aku hanya mengangguk dan lalu menunduk lagi. Aku takut benar jika cowok harapan Aisya ini, tahu isi hatiku, bahwa sesungguhnya aku pun menyukainya.

“Ya, kebetulan lagi ingin pulang ke rumah, bosan di tempat kos.” tambahku masih tanpa menatapnya. “Ayo masuk! Mau ketemu Raditya?” Aku hendak berbalik, namun tangannya menyergahku.

“Bukan! Aku mau ketemu kamu!”

What?!” Aku terkaget-kaget. “Aku?”

Cowok di hadapanku itu tersenyum dan mengangguk.

“Kamu lucu, Ndra! Very innocent!”

Mendadak hatiku resah, dan semakin bertambah resah tatkala tiba-tiba Aisya muncul.

“Hey, Ageng! Sudah lama, ya?”

“Nggak, baru saja!” Ageng menatap Aisya sesaat, “Oh ya, Sya, tadi aku beli buku buat Girindra sudah…”

“Sudah!” potongku seketika. “Terima kasih, ya! Aku suka bukunya. Sudah ya, aku ke dalam. Itu sudah ada Aisya, kan! Dia yang akan menemanimu.” pamitku seraya hendak ke dalam.

“Tunggu, Ndra…” Ageng melarangku ke dalam. “Ngobrol dulu di sini saja!”

Aku menggeleng.

“Aku harus belajar, Senin ada ujian!” dustaku dengan hati perih, karena terpaksa menekan rasa keinginanku yang sesungguhnya masih ingin bisa berbicara bersamanya, menikmati wajahnya yang menawan hatiku itu.

Aku melenggang ke dalam, membuat Aisya tersenyum bahagia, dan melambaikan tangannya padaku, sempat kulihat wajah Ageng yang tampak kecewa, tapi aku tak punya pilihan sama sekali. Aku sangat mencintai Aisya dan tak ingin menyakitinya, walau apa yang kulakukan sesungguhnya teramat menyakitkan hatiku.

Di kamarku, kuhabiskan malam mingguku untuk membaca buku-buku puisi yang diberikan Ageng, hingga akhirnya pukul sepuluh malam Aisya menyerbu masuk ke kamarku.

“Ndra! Awas ya, kalau besok-besok kamu menemui dia lagi! Aku nggak suka! Kamu nggak usah pulang ke Jakarta kalau perlu, sampai nanti kalau aku sudah jadian dengannya!”

Aku tersentak. Akankah kelak Ageng menyukai Aisya? Oh…

Minggu siangnya, aku melangkahkan kakiku ke depan kompleks perumahan. Budi baik Raditya yang akan mengantarkanku ke tempat kosku di Bogor kutolak mentah-mentah. Entahlah, aku memang sedang ingin menyendiri dan ‘menyiksa diri’ saat ini, saat kutahu aku memiliki rasa yang sama seperti Aisya terhadap Ageng, namun bedanya aku tak mungkin menggapainya, sementara Aisya sebaliknya.

Sebuah mobil yang masuk kompleks perumahanku tiba-tiba mengklaksoniku di depan pintu kompleks perumahan ini, bahkan berhenti tepat di depanku. Aku terkaget-kaget. Ageng, pengemudinya cepat berlari turun dan memburuku.

“Mau ke mana, Ndra?”

“Ageng? Aku mau ke terminal, mau cari kendaraan, hari ini aku mau pulang ke tempat kos, ke Darmaga di Bogor!”

“Aku antar, ya?”

Aku menggeleng.

“Nggak usah. Aku biasa jalan sendiri.”

“Nggak apa-apa! Ayolah!” Ageng sedikit memaksaku.

Aku menggeleng.

“Jangan, Ageng. Nanti ada yang cemburu padaku.”

“Apa? Cemburu? Siapa?”

Aku terdiam sejenak. Ragu untuk mengutarakannya, namun entah mengapa tiba-tiba saja mulutku…

“Aisya! Dia mencintai dan mengharapkanmu!”

Ageng terbelalak.

“Tapi aku menyukaimu!”

Aku menatapnya lekat. Dan dengan hati hancur kukuatkan mulutku untuk menegaskan lagi dengan kalimatku selanjutnya,

“Dia sangat mencintaimu, Ageng. Aku pun berharap kamu kelak bisa menjadi kakak iparku!”

Ageng terdiam. Aku sendiri menghapus dahiku yang mulai berkeringat karena tersengat matahari siang bolong ini.

“Sudah ya, aku jalan dulu. Sampai ketemu lagi, dan terima kasih atas buku-buku puisi yang kauberikan untukku.” Ujarku sambil buru-buru melangkah pergi, aku tak ingin ia mencium kesedihanku.

Sempat kulihat Ageng menatapku nanar. Tentu saja aku tak mampu menganalisa apa arti di balik tatapnya padaku itu. Mungkinkah dia terluka dengan ucapanku, di kala ia sendiri juga menyukaiku? Ah…Ageng, kalau saja kamu tahu, bahwa aku lebih terluka lagi dengan ucapanku tadi!

Handphoneku berdering nyaring tepat pukul sebelas malam, membuyarkan lamunanku. Aisya menghubungiku, aku tahu dari tulisan di layar handphoneku. Aduuuh, kemarahan apa lagi yang akan dimuntahkannya padaku malam ini? Bukankah aku tak memberikan kesempatan sedikitpun pada diriku, yang sesungguhnya menyukai Ageng, untuk mengganggu pertemanannya dengan sahabat Raditya itu, meski laki-laki itu juga menyukaiku?

“Halo, ada apa lagi, Sya?” sambutku setelah memijit tombol bicara.

“Ndra! Akhirnya malam ini aku jadian sama Ageng!”

Blaarrrr! Jantungku bagai tertimpa meteor dari atas langit sana malam ini.

“Waaaah…selamat, ya!” ujarku dengan air mata berlinang. Entahlah, tiba-tiba saja aku merasa sedih mendengar suara sejuta kebahagiaan dari Aisya di Jakarta sana!

“Maafkan aku ya, Ndra. Ternyata aku salah menduga padamu, aku sempat benci padamu karena Ageng membelikan buku-buku puisi hanya untukmu. Kini aku tahu pasti, dia mencintaiku seperti aku mencintainya.”

“Lupakan, Sya!”

“Oke, selamat tidur, Ndra!”

“Bye, Sya!”

Aku menggigit bibir, sambil mematikan tombol bicara handphone. Dari pembaringanku, kutatap sedih buku-buku puisi pemberian Ageng yang berserakan di mejaku. Sementara itu masih kudengar suara Whitney Houston membawakan lagu All At Once, lagu melankolis yang kini semakin membuat butir-butir air mataku menggelinding, dan terus menerus menggelinding.

Inilah saat terperih dalam hidupku. Saat aku harus mengenyahkan rasa cinta dari hatiku, demi kebahagiaan seorang Aisya! Biarlah…biarlah kusimpan rahasia cintaku ini, hingga tak kan seorang pun tahu bahwa sesungguhnya aku mencintai Ageng yang menyukaiku namun dicintai Aisya! Aku cukup bahagia, bisa memiliki dan menyimpan buku-buku puisi pemberiannya. Aku cukup bahagia, karena aku tahu sesungguhnya dia pun menyukaiku, walau aku tak mungkin membalas cintanya.

SELESAI

Cerita ini dimuat sebagai cerita utama pada majalah Say! Edisi 07 Juni 2010

FIONA

Aku duduk di kursi beton di samping pintu gerbang taman kanak-kanak ini, menanti saat-saat pintu gerbang gedung TK ini dibuka, tanda para penjemput diperkenankan masuk menjemput anak-anak ke kelasnya masing-masing. Di sebelahku duduk pula tiga orang ibu-ibu yang agaknya juga hendak menjemput anaknya. Mereka asyik mengobrol membicarakan buah hati mereka masing-masing, entah kehebatannya, kegemarannya juga kenakalannya yang membuatku iri hati!

“Ghea, anakku yang kedua, yang kelas enam itu benar-benar bela pati padaku! Bayangkan, setiap malam, sejak suamiku ketahuan olehku main sms dengan bekas pacarnya ketika sma, anakku itu selalu menyempatkan diri mengecek ponsel suamiku, ketika suamiku pergi mandi. Setelah itu, dia akan lapor padaku ‘Ma, bersih Ma, nggak ada sms dari perempuan!’. Hebat, kan?” Ibu yang memakai baju merah jambu itu berkomentar.

“Ha..ha..ha…, kamu yang menyuruhnya, kan?” Ibu yang berbaju biru tertawa. “Soalnya, kamu nggak enak mau mengecek ponsel suamimu, jadi kamu suruh anakmu! Aku juga begitu, menyuruh Anggia, anak perempuan tunggalku, untuk mengecek ponsel suamiku.”

“Hus…nggak!” kilah si Ibu berbaju merah jambu lagi. “Dia sendiri yang punya inisiatif, karena katanya dia nggak mau suamiku direbut perempuan lain!”

“Itu dia enaknya punya anak perempuan!” komentar ibu-ibu temannya yang lain, yang berbaju kuning. “Kenapa ya, kok aku nggak punya anak perempuan. Anakku lima lelaki semua, mana bandelnya minta ampun!”

Si ibu yang berbaju biru tertawa.

“Sudah, tambah satu lagi, mana tahu anakmu yang keenam nanti perempuan!”

Ibu berbaju kuning itu memonyongkan mulutnya, “Capek! Lima saja sudah setengah mati bayar spp sekolahnya!”

Aku menghela napas. Aduh…Mbak, Mbak semestinya bersyukur, bisa mempunyai lima orang anak, walau semuanya lelaki, batinku, aku saja yang sudah lima belas tahun menikah, sampai detik ini belum memiliki momongan!

Ya, lima belas tahun sudah aku menikah dengan Fritz, namun hingga detik ini aku belum mendapatkan tanda-tanda untuk mempunyai momongan, meski segala upaya sudah kami lakukan, mulai dari konsultasi pada dokter ahli hingga mencoba terapi tradisional. Semua menyatakan kami baik-baik saja, tak ada kelainan apa-apa. Aku subur, begitu pula Fritz, namun aku tak mengerti mengapa kami belum juga dikaruniai seorang anak. Ingin rasanya aku mencoba untuk mendapatkan momongan dengan cara bayi tabung, namun aku sungguh sangat mengerti biaya untuk hal semacam itu bukan tidak sedikit, dan tentu saja keuangan Fritz sungguh terbatas untuk itu. Maka ketika otak dan hatiku telah lelah, kuputuskan saja untuk menanti dengan pasrah dan tulus kapan pun kelak Tuhan mengijinkan kami memperoleh momongan. Aku sangat percaya bahwa kuasa Tuhan-lah yang menentukan segalanya.

Sunyi memang hidup berumah tangga, tanpa kehadiran seorang anak pun di dalam rumah kami. Apalagi ketika Fritz melarangku untuk berkarir dua tahun yang lalu. Maka ketika titik kejenuhanku mencapai kulminasinya, akhirnya aku memohon pada suamiku agar aku diijinkan untuk menjalankan usaha antar jemput anak sekolah taman kanak-kanak, dengan kendaraan kami. Untunglah suamiku mengijinkan, hingga akhirnya sudah hampir setahun ini, kujalani hidupku dengan menjadi supir antar-jemput untuk anak-anak sekolah taman kanak-kanak, sebagai pelarianku untuk menghilangkan rasa kerinduanku pada anak-anak. Ya, sejak itu memang hidup terasa lebih menyenangkan, daripada aku hanya di rumah saja sejak pagi hingga sore, berteman sunyi, menanti suami pulang kantor.

“Brakkk!” aku tersentak ketika tiba-tiba kudengar pintu gerbang utama gedung TK ini dibuka. Aku pun segera mengangkat pantatku dari kursi beton ini dan bergegas masuk ke dalam.

Aku terkaget-kaget ketika Fiona berlari ke arahku, dan langsung menghambur memeluk pahaku, saat aku masih melangkah di koridor TK ini. Ada apa gerangan dengan anak TK yang selalu pulang dan pergi mengikuti mobil jemputan yang kusupiri ini?

“Maaf, Bu. Ibu, ibunya Fiona?” seorang guru menghampiriku. Mungkin ia guru baru di kelas Fiona, karena guru yang biasa kutemui sudah teramat mengenalku.

Aku menggeleng, sambil mengelus-elus kepala Fiona.

“Bukan, saya supir jemputannya. Ada apa, Bu? Apakah Fiona membuat masalah di kelas?”

Gurunya tersenyum ramah.

“Itu…Bu, tadi dia bercanda dengan Gadis, teman sekelasnya. Lalu entah kemudian gemas atau bagaimana, Fiona mencakar pipi Gadis, sehingga pipi Gadis baret dan berdarah.”

Jantungku langsung berdebar kencang. Aku memang tahu persis kebiasaan Fiona jika kesal, karena Helena, Ibunya yang juga sahabatku, selalu mengeluh kepadaku, bahwa jika anaknya merasa kesal maka tangannya sering mencakar. Di rumah pun, kakak dan adiknya sering menjadi sasaran cakaran Fiona. Alhasil, cakar-cakaran menjadi suatu tradisi, jika terjadi pertengkaran antar anak-anak di rumah Helena sahabatku itu. Wajah Fiona yang cantik pun akhirnya jadi memiliki cedera bekas cakaran di beberapa tempat. Aku tak tahu, entah itu buah cakaran kakak atau adiknya di rumah sebagai pembalasan perbuatannya. Yang membuatku heran, Helena dan suaminya terkesan menganggap biasa-biasa saja menghadapi tradisi unik itu. Entahlah, mungkin karena keduanya seorang manager senior di perusahaan farmasi terkemuka, maka saking begitu sibuknya mereka tak sempat lagi memikirkan perilaku anak-anaknya, bahkan terkadang hari Sabtu dan Minggu pun berdinas ke luar kota.

“Maaf, Bu…saya bisa titip surat panggilan untuk orangtua Fiona, Bu?”

Aku tersentak. Guru muda itu tersenyum padaku.

“Karena Fiona sudah ketiga kalinya membuat onar mencakar teman dalam seminggu ini.”

Tentu saja aku mengangguk.

“Mari, kita ke dalam dulu, Bu!” Guru muda itu mengajakku ke kelas, aku mengekornya, sambil menggandeng Fiona.

Pulangnya, di dalam mobil jemputan, aku dari hati ke hati mengajak bicara Fiona, tentu saja hal ini kulakukan setelah teman–teman satu mobil jemputannya selesai kuantar pulang.

“Fiona, memang kenapa tadi di sekolah, sayang?” tanyaku pada anak cantik yang duduk di sampingku, seraya kuusap-usap kepalanya.

“Itu… Tante, Gadis kan main sama Fiona, lalu Gadis nggak mau kasih pinjam boneka beruangnya, Fiona jadi kesel, ya…Fiona rebut. Eh…Gadis ngerebut lagi, ya jadinya Fiona cakar.”

Aku tersenyum.

“Eh…kenapa harus pakai mencakar, sih?” Aku menggelitik pinggangnya dengan telunjuk kiriku. “Memangnya Fiona beruang, ya?”

Anak itu terkekeh.

“Ya…enggak, Tante.”

“Makanya, jangan mencakar teman dong! Ngomong-ngomong, sakit nggak kalau Fiona yang dicakar?”

“Ya…sakitlah!”

“Nah, Fiona kan cantik. Anak cantik nggak boleh berbuat seperti itu, berbuat yang membuat orang lain sakit. Coba deh Tante tanya, di sekolah ada yang suka mencakar Fiona, nggak?”

Anak itu menggeleng.

“Paling-paling, di rumah kakak ama adik yang mencakar Fiona.”

“Fiona sih yang mulai duluan? Iya, nggak?”

Anak itu menganggukkan kepalanya.

“Anak cantik, jangan sedikit-sedikit mencakar orang lain lagi, ya? Nggak baik, lho?”

Anak itu terdiam.

“Dikasih tahu ya… tangannya jangan suka mencakar orang lain! Kan nanti orang lain jadi sakit. Ada bekasnya lagi. Wah, temanmu yang tadinya cantik jadi ada baretnya deh!” nasehatku sambil tetap mengusap kepalanya. “Jangan kayak beruang, ya!” ujarku kemudian. “Nanti, kalau Fiona suka mencakar teman di sekolah, Fiona nggak punya teman. Nggak enak, kan!”

Anak itu terdiam, aku pun terus saja mengusap-usap kepalanya. Entahlah, aku diam-diam merasa iba dan juga sayang pada anak sahabatku ini.

Tak lama, mobil yang kukemudi ini tiba di rumahnya. Tak kusangka, tiba-tiba Fiona berulah. Kali ini ia enggan turun dari mobil jemputanku. Bahkan rayuan si Mbok pun tak lagi mempan untuk membuat anak kelas TK B ini turun. Aku pun terpaksa menelepon Ibunya, kuceritakan pula kejadian di sekolah sekaligus surat panggilan dari sekolah untuk Ibunya. Tentu saja aku membicarakannya di tempat lain yang agak jauh dari Fiona, agar percakapan kami tak terdengar Fiona.

“Audrey, boleh aku numpang bicara dengan Fiona?” Helena, Ibunya, di seberang sana terdengar habis akal menghadapi si anak yang bertingkah siang ini.

“Oke, saya ke tempat Fiona.” Aku melangkah masuk mobilku. “Fiona, ini Mama mau bicara sama Fiona.” Ujarku pada anak itu, sambil memijit tombol agar loadspeaker handphoneku menjadi aktif, sehingga Fiona bisa mendengar ucapan Ibunya, melalui handphoneku.

“Fiona…, ini Mama mau bicara!” Tak lama kudengar suara Helena. Mengomel. “Fiona, cepat turun dari mobil dan makan sama si Mbok! Jangan bikin Mama pulang kantor nanti kasih kamu hukuman!”

Fiona dengan enteng menjawab.

“Mama, aku nggak mau turun, aku mau ikut Tante Audrey. Aku mau main di rumah Tante Audrey! Aku mau belajar sambil main di sana!”

“Kalau kamu nggak turun, Mama akan buang semua mainanmu nanti!”

“Nggak apa-apa, buang saja!”

“Mama nggak mau beli mainan lagi untuk Fiona!”

“Biarin!”

“Mama nggak pulang ke rumah!”

“Nggak apa-apa, masih ada Tante Audrey. Fiona bisa tinggal sama Tante Audrey.”

Aku bergidik mendengar jawaban spontan Fiona yang terkesan cuek, dan keras kepala itu.

Akhirnya Helena tak bisa berbuat banyak, diijinkannya Fiona untuk main di rumahku. Anak ini memang lumayan sering main ke rumahku. Aku sendiri tak keberatan dia berada di rumahku, karena kehadirannya membuat kerinduanku pada seorang anak sedikit terobati. Aku seakan memiliki sahabat kecil untuk menemaniku di rumah. Aku bahkan dengan senang hati mengajarinya menulis, membaca, berhitung, mewarnai, dan kami melakukannya bersama-sama dengan suka cita dan canda tawa. Dan dalam setiap kesempatan, tak kulupa kusuntikkan nasihatku agar ia membuang jauh kebiasaannya mencakar teman. Entahlah Fiona memang bukan anakku, tapi aku menyayanginya seperti anakku sendiri.

Berbekal perlengkapan baju ganti, akhirnya Fiona tetap berada di mobilku dan ikut ke rumahku!

***

Hari ini hari pesta pentas seni TK, aku beruntung karena semua orangtua yang anaknya ikut jasa jemputanku menelepon agar aku tak perlu mengantar dan menjemput mereka, karena mereka sendiri yang akan mengantar, menjemput sekaligus melihat pementasan anaknya di panggung pentas seni TK. Hanya satu, Fiona. Helena tak meneleponku, itu artinya, aku tetap seperti biasa melakukan antar jemput padanya. Ingin sebetulnya aku menyarankan agar Helena, sebaiknya ijin sehari ini atau membolos kantor jika perlu, demi melihat penampilan Fiona, tapi aku tak punya nyali untuk itu. Aku kuatir ia mengira aku mengguruinya, atau jangan-jangan dikiranya aku enggan mengantar-jemput anaknya untuk hari ini.

Benar saja, jam tujuh lewat lima belas ketika kujambangi rumahnya, anak itu sudah berdandan cantik dengan memakai kostum thinker bell.

“Aih, cantiknya!” pujiku.

Fiona tersenyum girang.

“Fiona mau tampil juga nanti, ya?”

“Ya…Tante, mau baca puisi! Puisi buatan Fiona sendiri di sekolah!”

“Oh ya?” aku terperanjat. “Hebaat! Tante bangga deh! Wah…Tante boleh lihat, nggak?”

“Lihat saja, Tante! Kan Papa sama Mama Fiona nggak ada. Tante pura-pura jadi Mama Fiona!” Jawabnya lugu.

Aku tersenyum.

“Coba nanti Tante tanya sama Bu Guru, Tante boleh lihat nggak. Tante kan cuma supir Fiona!”

Anak itu mengangguk. Aku pun segera melarikan mobilku menuju sekolahnya. Di sepanjang perjalanan menuju sekolah, tak seperti biasanya Fiona lebih banyak terdiam. Sesekali aku melirik anak sahabatku itu yang tengah duduk di sampingku sambil menggigiti kuku jempol tangan kanannya.

“Kenapa? Tegang mau baca puisi, ya?” godaku ambil menggelitik pinggangnya.

Anak itu menggeleng, cuek, dan terus saja menggigiti kukunya.

“Tenang saja, Fiona. Tante percaya, Fiona pasti oke banget nanti saat tampil. Fiona kan pintar!” aku membesarkan hatinya.

Fiona tak menjawab, pula semakin asyik menggigiti kukunya.

Tiba di halaman parkir sekolah, ketika mobilku telah kuparkir rapi, entah mengapa Fiona mendadak memegang tanganku erat.

“Tante…Tante jangan pulang, ya! Tante lihat Fiona tampil!”

Aku ternganga-nganga. Aku tak mungkin mengiyakan, bukan karena aku ingin segera pulang selesai mengantarnya, tapi kusadari aku sendiri hanya seorang supir jemputan anak-anak, yang belum tentu boleh masuk menonton acara di aula TK-nya.

“Fiona…Tante harus bicara dulu dengan Bu Guru, kalau Bu Guru kasih ijin, Tante tentu saja akan dengan senang hati melihat Fiona tampil.”

“Ah…Fiona nggak mau turun kalau begitu!”

Dor! Aku bagai terkena tembakan sebuah pistol. Matilah aku! Batinku kelu. Serta merta kubujuk Fiona, tapi anak itu benar-benar keras kepala, dan bujuk rayuku sia-sia. Kularikan kakiku ke kelasnya menemui gurunya, gurunya pun datang ke mobil jemputan ini dan membujuknya. Akhirnya setelah terjadi negoisasi bahwa aku, yang hanya sang supir jemputan Fiona, diijinkan masuk melihat pentasnya nanti, - barulah Fiona ‘nakal’ ini mau turun.

Acara pentas seni TK ini luar biasa heboh. Ada operet Cinderella, ada pentas tari, ada pentas pianica, juga senam irama, bahkan pentas percobaan ipa sederhana yaitu membuat gunung meletus. Sungguh sangat luar biasa anak-anak masa kini, walau banyak terjadi kelucuan di sana sini, maklumlah namanya juga anak-anak TK, dan itu mengundang geli para orangtua yang hadir, tak terkecuali aku. Semua itu menjadi obat rinduku, sekaligus desah doa yang terus menerus kupanjatkan dalam hatiku di saat ini, agar Sang Khalik mengabulkan keinginanku untuk segera memiliki seorang anak dari rahimku ini.

Tibalah saat Fiona tampil. Ia tampil terakhir. Aku mendadak cemas, meski anak itu bukan anak kandungku, meski anak itu bukan anak asuhku, meski anak itu hanya anak jemputanku, namun kedekatan kami dan kekurangperhatian Helena padanya, membuatku memiliki perasaan sayang yang dalam padanya. Entahlah, aku merasa iba dengan Fiona, karena aku bisa merasakan betapa ia haus akan kasih sayang dan perhatian orangtuanya. Ya, aku bisa merasakannya, karena di saat-saat ia pentas pun saat ini, yang hanya setahun sekali saja, orangtuanya tak punya waktu untuk menyempatkan diri melihat penampilannya.

Fiona tampak penuh percaya diri tampil ke depan, dengan secarik kertas di tangan. Kurasa catatan puisi yang akan dibacakannya.

“Hallo….nama saya Fiona Valentina. Saya akan baca puisi judulnya ‘Jika Aku Bisa’.” Ujarnya lantang. Ia membungkukkan badannya, sebagai tanda hormat pada penonton.

Semua bertepuk tangan, tak terkecuali aku.

Kulihat ia menarik napas panjang, lalu

Jika Aku Bisa

Jika aku bisa,

Aku ingin selalu bersama Mama

Tapi betapa sayang,

Mama selalu mencari uang

Uang untuk beli mainan

Jika aku bisa,

Aku ingin mencari uang,

Mencari uang untuk membeli mama

Agar mama selalu bisa bersamaku

Selalu menemaniku

Fiona menatapku sejenak. Senyumnya tampak sumringah, tanda lega ia melewati tugas tampilnya dengan sempurna. Sementara aku berlinang menghayati puisi yang dibacakannya tadi.

Pembawa acara memerintahkan kami untuk bertepuk tangan, sementara Fiona menundukkan badan memberi hormat sebelum meninggalkan panggung.

Sang pembawa acara yang juga guru TK itu, kemudian mengumumkan bahwa acara pentas seni ini telah berakhir, dan akan segera ditutup dengan penampilan nyanyi bersama seluruh murid TK disertai pemberian tanda kasih pada Mama dan Papa oleh anak-anak. Ia berpesan, agar Mama atau Papa yang nama anaknya disebut, dimohon untuk maju ke pentas untuk menjemput anaknya sekaligus mendapatkan sekuntum bunga dan peluk cium dari sang anak masing-masing, lalu kembali ke kelas masing-masing.

Tak kusangka acara penutupan ini sungguh teramat syahdu. Anak-anak yang menyanyikan “Lagu Untuk Mama” dengan begitu tulus, dan kemudian orangtua maju ke pentas menjemput anaknya, sementara sang anak memberikan sekuntum bunga dan pelukan cinta pada orangtuanya. Aku sungguh terharu menyaksikan acara penutup ini.

Kulihat Fiona yang juga berada dalam barisan. Namun ia tampak tak bersemangat. Sinar matanya tampak resah. Terlebih-lebih ketika tiba namanya disebutkan, tentu saja tak satu pun lelaki atau wanita yang maju menghampirinya, karena orangtuanya tak hadir di acara ini. Fiona tetap tersenyum, senyum yang dipaksakan dengan sinar matanya yang tampak tak bahagia. Ingin aku maju ke depan, namun aku ragu. Layakkah???

“Mana Mama atau Papa Fiona?” Sang pembawa acara memanggil, berhubung tak seorang pun tampil ke depan.

Fiona tiba-tiba berteriak dengan polosnya, matanya memandang sang pembawa acara,

“Bu Guru, kenapa masih memanggil Mama dan Papa saya? Mereka tidak ada. Panggil saja Tante Audrey!” ujarnya lantang, selantang ketika ia membaca puisi tadi, meski tak memakai pengeras suara.

Aku terhenyak. Tanpa menunggu panggilan, aku beranjak ke depan, ditemani tatapan berpuluh-puluh pasang mata.

Fiona memelukku.

“Aku sayang Tante Audrey!” ujarnya sambil memelukku dan memberikan sekuntum mawar di tangannya yang telah dibagikan gurunya (yang semestinya untuk diserahkan kepada mama atau papanya).

Air mataku berlinang, bergulir. Kupeluk Fiona erat, penuh kasih, walau dia bukan anakku, walau dia hanya anak jemputanku. Detik itu juga, aku berjanji dalam hati, jika aku dikaruniai seorang anak oleh Sang Khalik, maka aku akan sumbangsihkan waktu dan kasih sayangku setulusnya untuk anakku. Aku tak ingin anakku akan mengalami saat-saat yang menyedihkan seperti yang dialami Fiona!

SELESAI

Cerita ini dimuat di Kartini edisi 2272 terbit 10 Juni 2010